Rabu, 26 Desember 2012

Anak dan Istri itu titipan Allah

Duhai Suami,,,,,,,,,
Istrimu adalah titipan Allah..
titipan yang akan engkau akan ditanya tentangnya..
apakah titipanNya diperlakukan sesuai dengan keinginanNya..
ataukah akan engkau jadikan seorang yang awam tidak tahu tentangNya..
tidak mengenal tentang negeriNya..
engkau jadikan sebagai bahan kebanggaan duniawi..

Duhai Suami,,,,, 
Istrimu adalah titipanNYA..
Kelak kau akan ditanya bagaimana kau memperlakukannya..
engkau biarkan bergelimang dalam kesibukan dunia..
atau kau ajari dia tentang keabadian NEGERI AKHIRAT..

Duhai Suami,,,,,,,,,,,,
Anakmu adalah amanah Allah..
kelak engkau akan ditanya tentangnya..
apakah engkau jadikan titipanNya seorang yang selalu mencintaiNya..
mencintai dan mengikuti para utusanNya..
atau engkau jadikan sebagai generasi pencinta kehidupan dunia dan kesibukkannya..

Dunia tempat kita bercocok tanam..
kelak kita akan memanen memetik hasilnya...

Duhai Suami,,,
kedua orangtuamu adalah ujian bagimu.. 
akankah engkau akan merasa terbebani oleh keberadaannya.. 
ataukah engkau gunakan sebagai kesempatan menggali balasan negeri akherat...

Hikmat di saat diam

Hikmat di saat diam

Diamnya seseorang jika dia berilmu akan dapat menambah ilmunya dan wibawanya...

Pembicaraannya terbatasi pada perkara yang ada manfaat bagi dirinya maupun orang lain..


Hikmat di saat diam

Bagi orang yang tidak berilmu diamnya adalah tabir untuk menutupi kebodohannya..

Pembicaraannya terbatasi supaya dunia tidak menjadi rusak dengan sepatah dua patah kata darinya..

terlena dgn dunia 2

Siapa yang tidak berprestasi kalah berkompetisi akan kalah oleh kolega..

Dengan itu semua seseorang muslim terlalaikan dari agamanya...

Asyik meniti karir dunia habislah masa muda..

Ditengah tidurnya tiba-tiba kematian menyergapnya..

Menjerit ruhnya memohon kembali ke dunia sesaat saja..

Untuk berbuat baik sedikit saja kepada ibu-bapanya kepada tetangga kerabatnya..

Sesaat saja untuk sujud dan rukuk membaca kalamNya..

Peyesalan dalam gelap-gulita..

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur"
(AlQur'an At-Takatsur 1-2)

terlena dgn dunia

Hal yang sangat menakjubkan keadaan banyak
manusia, penuh semangat dalam meraih sukses
dunianya...

Melengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dalam meraup pendapatan..

Semangat mengelola berbagai bisnis sebagai bekal kehidupan, rela berkorban waktu berbulan-bulan bertahun dalam rangka membayar cicilan harta dunia..

Namun terhadap kehidupan akhirat termasuk orang-orang yang lalai..

Panggilan adzan tidak membuat mereka tergerak untuk ke masjid..

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari
kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” [ Ar-Rûm: 7 ]

Sabtu, 22 Desember 2012

ibu

Islam mengajarkan bahwa kaum ibu merupakan fihak yang sangat istimewa dan tinggi derajatnya. Oleh karena itu kita sangat akrab dengan hadits yang menjelaskan keharusan seorang sahabat agar memprioritaskan berbuat baik kepada ibunya. Bahkan Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam menyebutkan keharusan tersebut sebanyak tiga kali sebelum beliau akhirnya juga menganjurkan sahabat tadi agar berbuat baik kepada ayahnya. Jadi ibaratnya keharusan menghormati dan berbuat baik seorang anak kepada ibunya sepatutnya lebih banyak tiga kali lipat daripada penghormatan dan perilaku baiknya terhadap sang ayah.
Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kita juga sangat akrab dengan hadits yang menyebutkan beberapa dosa besar dimana salah satunya ialah durhaka kepada kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Di antaranya disebutkan sebagai berikut:
Dari Anas ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam ditanya mengenai dosa-dosa besar, maka beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang-tua, membunuh jiwa dan kesaksian palsu.” (HR Bukhary)
Bahkan di dalam hadits lainnya disebutkan bahwa kedua orang-tua merupakan faktor yang sangat besar mempengaruhi apakah seseorang bakal menuju ke surga ataukah ke neraka. Artinya, perilaku baik seseorang kepada kedua orang-tuanya bakal memperbesar kemungkinannya berakhir di dalam rahmat Allah dan surga-Nya. Sedangkan kedurhakaannya kepada kedua orang-tua bakal memperbesar kemungkinan hidupnya berakhir di dalam murka Allah dan neraka-Nya.
Dari Abi Umamah ia berkata: “Ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orang-tua atas anak mereka?” Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Keduanya (merupakan) surgamu dan nerakamu.” (HR Ibnu Majah)
Hal ini sejalan dengan hadits berikut ini: Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR Tirmidzi)
Namun yang menarik ialah ditemukannya hadits yang secara khusus mengungkapkan haramnya durhaka kepada sang ibu. Sedangkan hal ini tidak kita temukan dalam kaitan dengan larangan berlaku durhaka kepada sang ayah. Sudah barang tentu ini tidak berarti bahwa berlaku durhaka kepada fihak ayah dibenarkan. Yang jelas dengan adanya larangan khusus berlaku durhaka kepada fihak ibu cuma menunjukkan betapa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi martabat kaum ibu.
Bersabda Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam: “Allah melarang kalian durhaka kepada ibu kalian.”(HR Bukhary)
Dalam hadits lain kita juga dapati bagaimana Islam menyuruh menghormati ibu sekalipun ia bukan orang beriman seperti hadits yang diriwayatkan oleh Asma puteri sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq berikut ini:
Asma binti Abu Bakar berkata: “Telah datang kepadaku ibuku dan dia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam. Maka aku datang kepada Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam meminta fatwa beliau. Aku bertanya kepada beliau: “Telah datang kepadaku ibuku sedangkan ia punya suatu keperluan. Apakah aku penuhi permintaan ibuku itu?” Maka Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Iya, penuhilah permintaan ibumu itu.” (HR Bukhary)
Mengapa kaum ibu sedemikian diutamakan? Karena mereka adalah fihak yang sejak masih mengandung anak saja sudah merasakan beban memikul tanggung-jawab membesarkan anak-anaknya. Mereka adalah pendamping, penyayang, pengasuh dan pengajar pertama dan utama bagi seorang anak. Ibu adalah fihak yang paling banyak direpotkan oleh anak semenjak mereka masih kecil. Begitu lahir anak menuntut air susu ibunya. Keinginan minum ASI seringkali tidak pandang waktu. Bisa jadi seorang ibu di tengah malam “terpaksa” bangun mengorbankan waktu istirahatnya demi menyusui buah hatinya.
Seorang ibu juga direpotkan ketika anaknya ngompol dan buang air besar. Ibulah yang biasanya harus mencebok dan membersihkan anaknya. Semakin ikhlas seorang ibu mengerjakan semua aktifitas tadi maka semakin melekatlah si anak kepada dirinya. Di balik segala kerepotan tadi sesungguhnya terjalinlah ikatan hati yang semakin kokoh antara ibu dan anak. Itulah sebabnya ketika seseorang sudah dewasa sekalipun, tatkala dalam kesepian tidak jarang rasa rindu akan belaian tangan ibunya yang penuh kasih sayang terkenang kembali.
Dalam pepatah Arab ada ungkapan berbunyi Al-Ummu madrasah (ibu adalah sekolah). Benar, saudaraku. Seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi setiap anak. Ibulah yang pertama kali mengajarkan banyak pelajaran awal tentang kehidupan kepada anak. Apalagi di zaman penuh fitnah seperti sekarang dimana al-ghazwu al-fikri (perang pemikiran/ perang budaya/ perang ideologi) datang menyerbu rumah-rumah kaum muslimin. Serbuan itu datang dari berbagai penjuru. Bisa dari televisi, internet, facebook, buku bacaan, komik, majalah, nyanyian, musik, pergaulan bahkan dari sekolah formal…! Maka kehadiran seorang ibu yang memiliki wawasan pengetahuan luas menjadi laksana penjaga benteng terakhir bagi anak-anaknya. Ibulah yang bertugas membentengi, memfilter dan mengarahkan anak-anak menghadapi berbagai serbuan perang budaya tadi.
Di masa kita dewasa ini saat mana faham ateisme, materialisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme begitu dominan mewarnai kehidupan masyarakat dunia, maka kehadiran seorang ibu sendirian mendampingi anak-anaknya kadang dirasa kurang memadai. Sehingga kerjasama antara ayah-mukmin dan ibu-mukminah sangat diperlukan. Dalam dunia modern anak-anak kita sangat perlu pengarahan yang sangat kokoh dan kompak dari kedua orang-tuanya sekaligus untuk meng-counter serangan musuh-musuh Islam yang pengaruh buruknya semakin hari semakin hegemonik.
Betapapun, seorang ayah tidak mungkin diharapkan untuk terus-menerus berada di rumah karena tuntutan mencari ma’isyah (penghasilan) bagi anak-isterinya. Oleh karenanya kehadiran dan keaktifan peran seorang ibu di rumah mendampingi anak-anaknya menjadi sangat strategis. Oleh karenanya Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam menyetarakan hadir dan aktifnya seorang ibu mendampingi anak-anaknya di rumah dengan aktifitas jihad fi sabilillah yang dilakukan oleh kaum pria di medan perang menghadapi musuh-musuh Allah.
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Kaum wanita datang menghadap Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ‘amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai ‘amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar)
Wahai kaum ibu, ikhlaslah dan sabarlah menjaga pos jihad kalian. Didiklah generasi masa depan calon-calon mujahidin dan mujahidat fii sabilillah harapan ummat….!

Jumat, 21 Desember 2012

Mengejar Cita-Cita dan Kebahagiaan

Manusia sebenarnya selalu dalam kenikmatan..

Akan tetapi kebanyakan tidak menyadari..

Manusia kebanyakan mendambakan kenikmatan yang lebih..

Ketika ia tidak puas dengan keadaannya sekarang..

Ketika Allah perturutkan keinginannya..

Maka Allah perturutkan cita--cita dunianya..

Tiba-tiba ia menyesali kekufurannya dahulu..

Tiba-tiba ia berharap kembali ke masa lalu..

Maka binasa dan menyesallah ia..

Dari kehidupan yang baik ia memilih kehidupan yang lebih buruk..

Demi secuil kenikmatan ia tidak berterimakasih dengan kenikmatan di hari ini..

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia ” QS 13:11

Motivasi adalah bahan bakar seseorang

Seseorang berbuat sesuai dengan motivasinya..

Motivasi adalah bahan bakar seseorang..

Ada yang motifnya uang dan jabatan..

Ada yang motifnya pujian dan sanjungan..

Tanpa motivasi mustahil seseorang rela berkorban tanpa pamrih..

Hanya Dialah Sang Pencipta yang sanggup memberi tanpa pamrih..

Karenanya Dia bernama AL-Wahhab..Maha Pemberi..Tanpa Pamrih..

Adapun manusia memberi tak lepas dari pamrih..motifasi..imbalan

Dan tidak ada yang lebih merdeka jiwanya lebih mulia imbalannya selain mereka yang motivasi tujuan akhirnya adalah mendapatkan rahmat dari Penciptanya di dunia dan di negeri akhir..

Kamis, 20 Desember 2012

Aku mencintaimu karena Allah

Salah satu sunnah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shollallahualaihi wassalam adalah:

Jangan sungkan-sungkan untuk mengucapkan kepada seorang yang kita cintai “Aku mencintai anda karena Allah” “Inni uhibbuka fillah”

Dan hendaknya orang yang dicintai membalas “Semoga Allah mencintai anda sebagaimana anda mencintai saya karenaNya”, “Ahabbakallah Alladzii ahabbani lahu”
Sumber Hadits :

“Suatu ketika seseorang sahabat berada di sisi Nabi SAW lewatlah seorang di hadapannya. Ketika melihatnya ia berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mencintainya.” Nabi SAW bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah memberitahukannya?” “Belum.” Jawabnya. Beliau bersabda, “Beritahukanlah.” Orang tersebut menyusulnya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Orang tersebut membalas dengan ungkapan, “Semoga Allah yang menjadikanmu mencintaiku juga mencintaimu sebagaimana engkau mencintaiku.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal RA bahwa Rasulullah SAW meraih tangannya lalu mengatakan, “Wahai Muadz, demi Allah aku mencintaimu!” Lalu beliau bersabda, “Wahai Muadz, aku berpesan kepadamu untuk tidak meninggalkan doa setelah shalat. ‘Allahumma `ainni `ala dzikrika wa husni ibadatika’ (Ya Allah bantulah aku untuk selalu berdzikir, mensyukuri nikmatmu dan beribadah kepadamu dengan baik’.” (HR. Abu Dawud)

Sabtu, 17 November 2012

cukup kah hanya dgn Gelar Hajjah ?

Jamaah haji selalu berdoa dan didoakan agar menjadi haji (hajah) mabrur. Mabrur berasal dari kata bahasa Arab yang mempunyai arti diterima dan diridhai. Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima Allah dan pelakunya mendapatkan ridha-Nya.
Semua itu berarti tergantung niat, tujuan, terpenuhinya syarat dan rukun haji, serta kepatuhan dalam segala perintah dan larangan haji. Walhasil, mabrur tidaknya jamaah haji adalah rahasia ilahi. Hanya Allah-lah yang tahu diterima atau tidaknya haji seorang hamba. Tak ada manusia yang tahu. Termasuk para pelaku sendiri, tak pernah yakin, apakah hajinya mabrur atau tidak.
Karena itu, ibadah haji bukanlah penutup dari segala ibadah. Ibadah haji bukan jaminan sudah sempurnanya penghambaan diri kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Bahkan, ibadah haji hendaknya menjadi titik awal untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Taala.. Lebih taat menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Bukankah di tengah ritual ibadah haji terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya?
Jadi, pasca beribadah haji, seorang hamba harus lebih segalanya dibanding mereka yang belum haji. Bukan hanya ibadah ritual, juga ibadah sosial. Seorang bergelar hajah, tidak merasa cukup bangga dengan gelarnya, tapi harus menunaikan tugasnya sebagai Muslimah, elemen masyarakat.


Muslimah memiliki tugas privat maupun publik. Di ranah privat, ia adalah anak dari orang tuanya, istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya. Gelar hajah yang melekat padanya, hendaklah memotivasi diri untuk menjalankan tugas tersebut lebih baik. Gelar hajah menjadi rem, menghalanginya untuk abai pada orang tua, membangkang suami atau menelantarkan anak.
Sebagai anak, Bu Hajah lebih berbakti pada orang tuanya. Sebagai istri, ia lebih taat pada suaminya. Sebagai ibu, ia lebih sayang pada anak-anaknya. Ia harus lebih bisa menciptakan keluarga harmonis dibanding keluarga umumnya. Ia harus lebih bisa melahirkan anak-anak shalih dibanding keluarga umumnya. Tidak lucu kalau ibunya hajah, anaknya bandel, nakal atau bahkan bertindak kriminal.
Sementara itu di ruang publik, seorang hajah biasanya dianggap sebagai representasi Muslimah shalihah. Ke-hajah-annya telah mendudukkan ia dalam posisi terhormat, disegani dan bahkan ditokohkan. Maklum, tak sembarang orang bisa menggapai gelar ini.  Selain kemampuan fisik, juga harus mampu secara materi. Sedangkan materi masih menjadi ukuran kehormatan bagi mayoritas masyarakat kita. Tak heran bila bu hajah sangat dijunjung tinggi. Ini tantangan bagi bu hajah, bagaimana ia betul-betul menjadi Muslimah sejati.
Nah, salah satu tugas Muslimah sejati adalah berdakwah. Muslimah adalah agen peubah (agent of change), yakni mengubah kaum Muslimah dari ketidaktaatan kepada ketaatan. Gelar hajah yang disandang, hendaknya memotivasi diri untuk senantiasa bergerak. Baik hati, tangan maupun kakinya berusaha mengubah masyarakat menuju keadaan lebih baik. Ia ikhlas berkroban dana, tenaga, waktu, ilmu, pemikiran dan bahkan nyawa demi menggapai cinta dan ridha Allah Subhanahu Wa Taala.
Memang, sebagai agen peubah tak harus menunggu bergelar hajah. Namun lebih-lebih bagi yang sudah bergelar hajah, tak ada alasan lagi untuk melalaikan dakwah. Kalau bu hajah saja tidak berdakwah, bagaimana dengan Muslimah kebanyakan?

Tugas agen peubah adalah mengubah nasib dan keadaan masyarakat, bangsa dan umatnya menjadi lebih baik, sejahtera, bahagia, maju dan berkeadilan sosial. Juga memerangi segala bentuk kezaliman, keterbelakangan, kemaksiatan, kemusyrikan dan segala hal negatif lainnya.
Dan, perubahan itu akan terjadi bila umat diseru untuk kembali kepada syariah dan khilafah. Sebab hanya sistem buatan Allah Subhanahu Wa Taala. inilah yang mampu membawa berkah, maslahat, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat, termasuk kaum Muslimah.
Karena itu, bagi para mantan tamu Allah yang baru saja pulang dari Tanah Suci dan kembali ke kampung halamannya masing-masing, tunjukkan kemabruran hajinya dengan menjadi agen peubah. Sesuai semangat haji, segeralah berkorban demi umat.
Dengan begitu, ibadah haji dan pengorbanannya dalam melaksanakan haji -yang telah menghabiskan begitu banyak dana, tenaga dan waktu- tidak sia-sia belaka atau tidak hanya bermanfaat pada dirinya sendiri.
Segeralah berbuat karena umat sedang menunggu dan mengharap munculnya agen-agen peubah. Mereka telah begitu lama terpuruk dalam banyak hal, seperti ekonomi, sosial, akhlak, pendidikan dan kesehatan. Bayangkan, betapa dahsyatnya perubahan yang akan terjadi jika ratusan ribu Muslimah yang tiap tahun terlahir sebagai hajah ini berlomba-lomba menyerukan kaumnya untuk kembali pada syariah dan khilafah. Insya Allah, pertolongan Allah akan segera datang. Amin

Senin, 06 Agustus 2012

Keutamaan shalat bardain ( Shubuh & Ashar )


Shubuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat kala itu. Allah Ta’ala berfirman,
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al-Isra’: 78)

Betapa banyak kaum muslimin yang lalai dalam mengerjakan shalat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan shalat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang shalat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu shalat lainnya.

Keutamaan Shalat Shubuh

Apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah
(1) Salah satu penyebab masuk surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

(2) Salah satu penghalang masuk neraka
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (HR. Muslim no. 634)

(3) Berada di dalam jaminan Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

(4) Dihitung seperti shalat semalam penuh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

(5) Disaksikan para malaikat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat Shubuh

Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan shalat shubuh? Dan kebanyakan orang meninggalkan shalat shubuh karena aktivitas tidur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.
Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.