Menjadi ibu adalah sunatullah bagi para perempuan. Sebuah fase
kehidupan yang seolah mengalir, tampak mudah dilakoni oleh semua
perempuan. Padahal, banyak hal baru yang ditemui ibu seiring dengan
perannya sebagai manajer rumah tangga.
Saat menikah, ia dituntut mampu melayani suami dengan baik.
Menyediakan makanan kesukaannya, segala keperluannya, hingga memuaskan
nalurinya. Lalu ketika hamil, ia harus belajar bagaimana menjadi calon
ibu. Apa yang harus dilakukan selama masa kehamilan, bagaimana agar
lancar dalam persalinan, dst. Begitu si kecil lahir, tambah banyak lagi
pelajaran yang harus diserap ibu: bagaimana cara menyusui, merawat bayi,
jika bayi sakit, dst.
Ketika di bayi tumbuh menjadi kanak-kanak, ibu harus terus memberikan
rangsangan, mendampinginya bermain sembari belajar, mengajarkannya
berbagai ilmu kehidipan, dst. Pendek kata, ibu adalah murid, di mana
sepanjang usianya harus terus belajar. Sebab, tidak ada ilmu pasti,
bagaimana menjalankan peran sebagai ibu. Setiap saat, setiap waktu ada
pelajaran baru yang harus dipelajarinya. Untuk itu, ibu dituntut
kreatif, terlebih memang tidak ada sekolah khusus bagi kaum ibu.
Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:
1. Mencoba hal-hal baru
Dalam hal apapun, ibu jangan takut mencoba hal-hal baru yang selama
ini belum pernah dilakukan. Yang penting halal, boleh dipraktikkan.
Seperti mencoba resep masakan baru, yang belum pernah disajikan di
rumah. Menyediakan cemilan yang belum pernah disajikan, sehingga
penghuni rumah tidak bosan. Termasuk mendesain ulang interior. Ya,
sekali waktu, ubahlah penempatan perabot rumah atau mengganti warna cat
tembok. Suasana baru, akan menimbulkan semangat baru. Terlebih
anak-anak, cepat sekali bosan. Desain ulang kamarnya, niscaya membuat
anak betah beraktivitas di kamar “baru”-nya.
2. Terus belajar
Belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan melalui cara apa
saja. Ibu pun harus menambah wawasannya, baik membaca buku, mengikuti
pelatihan/seminar, browsing internet, dll. Dalam kaidah Islam ada
ungkapan seperti: “belajarlah sampai ke negeri Cina”, “belajar dari
sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di
dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah
dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”. Itu
adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar.
Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam
kesehariannya.
3. Sharing dengan orang-orang kreatif
Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia
berteman. Itu mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan betapa
pentingnya arti seorang teman. Jika Anda selalu berhubungan dengan
orang-orang kreatif, Anda akan menjadi orang kreatif. Jadi, sekali waktu
ngobrollah dengan teman soal kerumahtanggaan. Muslimah tak harus
membahas soal dakwah melulu dengan teman satu pengajian, tapi juga sharing tentang pernak-pernik rumah tangga. Niscaya ada inspirasi-inspirasi baru dari obrolan itu.
4. Ciptakan suasana kondusif
Buatlah rumah tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh
anggota keluarga, juga tamu atau saudara yang datang. Suasana yang
menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi
ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan.
Jangan jadikan rumah tegang karena seluruh penghuni serius atau lengang
tanpa obrolan plus candaan. Meski tetap menjaga suasana spiritual,
memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitmen sebagai norma yang
berlaku, suasana rumah yang “cair” membantu penghuni merasa bahagia
Minggu, 29 April 2012
Perempuan itu Mulia
Perempuan dalam industri kapitalis makin telanjang. Tak afdhal rasanya
tanpa memasang tubuh molek mereka, baik dalam iklan, musik, sinetron
maupun film. Perempuan dalam ideologi kapitalis memang begitu
direndahkan. Hanya dinilai dari kemolekan tubuhnya, dieksploitasi setiap
inchi tubuhnya demi rupiah. Makin seksi, makin berani buka-bukaan,
makin menggiurkan bayarannya.
Berjejalanlah kaum perempuan untuk antre dieksploitasi. Hal ini mengundang kesimpulan, lenyapnya harga diri mereka. Sayangnya, sebagian juga Muslimah. Ini terjadi karena rendahnya kesadaran kaum perempuan akan harkat dan martabat dirinya. Mereka sudah termakan racun ideologi kapitalis yang mendefinisikan perempuan ideal sebagai: perempuan mandiri, bebas berekspresi dan menjunjung tinggi hak asasi.
Perempuan seperti ini memahami kebahagiaan dari materi. Mereka memandang kecantikan dan kemolekan tubuhnya sebagai aset berharga yang harus dimanfaatkan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia.
Tentu saja, pihak yang merendahkan perempuan, sejatinya memiliki harga diri lebih rendah. Ya, pengeksploitasi tubuh perempuan adalah manusia hina, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah pihak yang suka mempermainkan perempuan, menjadikannya barang mainan. Mereka bukanlah orang yang pantas dihargai, karena tidak menghargai perempuan.
Mereka lupa bahwa ibu, istri, nenek, adik atau kakak mereka perempuan. Bahkan di antara mereka juga punya anak perempuan. Relakah jika para perempuan suci di sekelilingnya itu dieksploitasi? Relakah bila ibu, istri atau anak gadis mereka sendiri ditelanjangi dan ditonton jutaan mata? Orang tak waras saja yang menjawab iya.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “tidak akan memuliakan perempuan kecuali lelaki yang mulia, tidak merendahkan perempuan kecuali lelaki yang rendah pula.”
Perempuan Mulia
Ironisnya, para pejuang harkat dan martabat perempuan diam saja menyaksikan proses eksploitasi besar-besaran terhadap kaumnya. Mereka justru berteriak nyaring jika perempuan diamankan dari keterjerumusan harga dirinya.
Ketika ada upaya umat Muslim untuk melindungi kaum perempuan (Muslimah) dengan pakaian takwa, para aktivis yang mengklaim memperjuangkan hak-hak perempuan itu langsung berteriak: jilbab itu tidak trendy, pengekang aktivitas, simbol budaya Arab, bukan syariat Islam, dan menghambat kebebasan berekspresi. Dihambatlah berbagai regulasi yang berbau Islam, seperti perda yang mewajibkan perempuan menutup aurat dan memberlakukan jam malam untuk perempuan, beberapa waktu lalu.
Sebaliknya, mereka membela model porno, pelaku adegan mesum, dan bahkan pezina seks komersial sebagai profesi. Mereka mencak-mencak kalau perempuan-perempuan itu diusik dari kebebasannya berekspresi.
Demikian pula ketika ada upaya umat Muslim untuk mengembalikan aktivitas perempuan ke rumah, penggiat kesetaraan gender langsung gerah. Mereka segera mempropagandakan kemandirian ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Perempuan dilepaskan dari ketergantungan pernafkahannya pada wali atau suami.
Akibatnya, perempuan didorong menghidupi dirinya sendiri dengan berkeliaran di ranah publik. Di sana tubuhnya menjadi terkaman mata para lelaki hidung belang. Pelecehan, perkosaan hingga perzinaan jadi bagian cerita sehari-hari.
Padahal, dengan mendudukkan kembali fungsi dan peran perempuan di rumah, eksploitasi atas tubuh perempuan bisa dihentikan. Jika perempuan memahami kodratnya sebagai wanita baik-baik dengan lebih dominan beraktivitas di rumah, insya Allah tidak ada kesempatan untuk berpose bugil, beradegan mesum, atau berlenggak-lenggok tanpa busana. Tidak akan terjadi buka-bukaan aurat yang menggoda mata nafsu laki-laki yang memang kodratnya harus berkiprah di ranah publik sebagai pencari nafkah.
Lagipula, sejatinya kebahagiaan perempuan adalah di rumah. Ya, setinggi apapun perempuan 'terbang' di ruang publik, pasti 'hinggap' juga ke sarang, yakni rumahnya. Rumah adalah istana terindah bagi kaum perempuan, dengan malaikat-malaikat kecil berupa putra-putrinya yang selalu dirindu.
Ya, perempuan rumahan adalah perempuan mulia. Dia menjaga harga diri, punya rasa malu tinggi, menjaga nama baik diri maupun keluarga. Selayaknya perempuan menjadikan rumah sebagai sumber aktivitasnya.
Memang, tidak dilarang beraktivitas di luar rumah bagi kaum perempuan. Tapi, harus memenuhi syarat-syarat sesuai syariat Islam. Seperti menutup aurat, tidak membahayakan diri, tidak khalwat dan ikhtilat, tidak mengandalkan kemolekan tubuh/tabaruj, bermuamalah yang halal, ditemani mahram bila bepergian lebih dari sehari semalam, dll.
Demikian seharusnya, di manapun berada, Muslimah sejati selalu menjaga harga diri. Ini adalah kewajiban yang tak boleh diabaikan. Haram mengeksploitasi tubuh untuk motif apapun, apalagi sekadar materi
Berjejalanlah kaum perempuan untuk antre dieksploitasi. Hal ini mengundang kesimpulan, lenyapnya harga diri mereka. Sayangnya, sebagian juga Muslimah. Ini terjadi karena rendahnya kesadaran kaum perempuan akan harkat dan martabat dirinya. Mereka sudah termakan racun ideologi kapitalis yang mendefinisikan perempuan ideal sebagai: perempuan mandiri, bebas berekspresi dan menjunjung tinggi hak asasi.
Perempuan seperti ini memahami kebahagiaan dari materi. Mereka memandang kecantikan dan kemolekan tubuhnya sebagai aset berharga yang harus dimanfaatkan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia.
Tentu saja, pihak yang merendahkan perempuan, sejatinya memiliki harga diri lebih rendah. Ya, pengeksploitasi tubuh perempuan adalah manusia hina, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah pihak yang suka mempermainkan perempuan, menjadikannya barang mainan. Mereka bukanlah orang yang pantas dihargai, karena tidak menghargai perempuan.
Mereka lupa bahwa ibu, istri, nenek, adik atau kakak mereka perempuan. Bahkan di antara mereka juga punya anak perempuan. Relakah jika para perempuan suci di sekelilingnya itu dieksploitasi? Relakah bila ibu, istri atau anak gadis mereka sendiri ditelanjangi dan ditonton jutaan mata? Orang tak waras saja yang menjawab iya.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “tidak akan memuliakan perempuan kecuali lelaki yang mulia, tidak merendahkan perempuan kecuali lelaki yang rendah pula.”
Perempuan Mulia
Ironisnya, para pejuang harkat dan martabat perempuan diam saja menyaksikan proses eksploitasi besar-besaran terhadap kaumnya. Mereka justru berteriak nyaring jika perempuan diamankan dari keterjerumusan harga dirinya.
Ketika ada upaya umat Muslim untuk melindungi kaum perempuan (Muslimah) dengan pakaian takwa, para aktivis yang mengklaim memperjuangkan hak-hak perempuan itu langsung berteriak: jilbab itu tidak trendy, pengekang aktivitas, simbol budaya Arab, bukan syariat Islam, dan menghambat kebebasan berekspresi. Dihambatlah berbagai regulasi yang berbau Islam, seperti perda yang mewajibkan perempuan menutup aurat dan memberlakukan jam malam untuk perempuan, beberapa waktu lalu.
Sebaliknya, mereka membela model porno, pelaku adegan mesum, dan bahkan pezina seks komersial sebagai profesi. Mereka mencak-mencak kalau perempuan-perempuan itu diusik dari kebebasannya berekspresi.
Demikian pula ketika ada upaya umat Muslim untuk mengembalikan aktivitas perempuan ke rumah, penggiat kesetaraan gender langsung gerah. Mereka segera mempropagandakan kemandirian ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Perempuan dilepaskan dari ketergantungan pernafkahannya pada wali atau suami.
Akibatnya, perempuan didorong menghidupi dirinya sendiri dengan berkeliaran di ranah publik. Di sana tubuhnya menjadi terkaman mata para lelaki hidung belang. Pelecehan, perkosaan hingga perzinaan jadi bagian cerita sehari-hari.
Padahal, dengan mendudukkan kembali fungsi dan peran perempuan di rumah, eksploitasi atas tubuh perempuan bisa dihentikan. Jika perempuan memahami kodratnya sebagai wanita baik-baik dengan lebih dominan beraktivitas di rumah, insya Allah tidak ada kesempatan untuk berpose bugil, beradegan mesum, atau berlenggak-lenggok tanpa busana. Tidak akan terjadi buka-bukaan aurat yang menggoda mata nafsu laki-laki yang memang kodratnya harus berkiprah di ranah publik sebagai pencari nafkah.
Lagipula, sejatinya kebahagiaan perempuan adalah di rumah. Ya, setinggi apapun perempuan 'terbang' di ruang publik, pasti 'hinggap' juga ke sarang, yakni rumahnya. Rumah adalah istana terindah bagi kaum perempuan, dengan malaikat-malaikat kecil berupa putra-putrinya yang selalu dirindu.
Ya, perempuan rumahan adalah perempuan mulia. Dia menjaga harga diri, punya rasa malu tinggi, menjaga nama baik diri maupun keluarga. Selayaknya perempuan menjadikan rumah sebagai sumber aktivitasnya.
Memang, tidak dilarang beraktivitas di luar rumah bagi kaum perempuan. Tapi, harus memenuhi syarat-syarat sesuai syariat Islam. Seperti menutup aurat, tidak membahayakan diri, tidak khalwat dan ikhtilat, tidak mengandalkan kemolekan tubuh/tabaruj, bermuamalah yang halal, ditemani mahram bila bepergian lebih dari sehari semalam, dll.
Demikian seharusnya, di manapun berada, Muslimah sejati selalu menjaga harga diri. Ini adalah kewajiban yang tak boleh diabaikan. Haram mengeksploitasi tubuh untuk motif apapun, apalagi sekadar materi
Rasa pengertian yang mendalam antara suami-istri
Hubungan pernikahan memerlukan rasa pengertian yang mendalam antara suami-istri. Beberapa tips untuk menjaga hubungan itu:
Suami bukan Penguasa
Meskipun Islam menjadikan suami sebagai pemimpin rumah tangga, tapi bukan kepemimpinan diktator atau tiran. Suami harus melayani istri dengan baik. Nabi SAW pernah bersabda “Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istri” (HR At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani).
Menjadi Partner
Buatlah keputusan bersama untuk keluarga. Keharmonisan rumah tangga akan lebih jika keputusan yang diambil tidak sepihak dan semua anggota keluarga menjadi bagian dari pengambilan keputusan tersebut.
Jangan Emosional
Jangan pernah emosional baik secara fisik maupun mental kepada pasangan. Nabi SAW tidak pernah menyakiti istrinya. Nabi SAW pernah bersabda “bagaimana mereka bisa berbuat menjadikan istri-istri mereka di siang hari sebagai budak, dan tidur dengan istri mereka di malam hari.”
Menjaga Lisan
Hati-hati dengan ucapan yang engkau katakan ketika dalam keadaan sedih atau emosional. Terkadang akan keluar ungkapan yang tidak pernah diucapkan ketika tidak marah.
Tunjukkan Apresiasi
Jangan pernah membuat pasangan merasa bahwa dia tidak cukup baik pada keluarga atau tidak memuaskan dengan apa yang dia lakukan atau perkerjaannya. Nabi SAW bersabda “pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya”.
Berkomunikasi
Komunikasi adalah hal yang penting. Komunikasi, komunikasi, komunikasi! adalah kata-kata yang sering diucapkan dalam konseling dan memang hal tersebut perlu dilakukan. Suami istri perlu saling berbicara. Lebih baik jika dalam menghadapi masalah dibicarakan lebih dini dan terbuka,
Banyak Bersyukur
Jangan merasa cemburu dengan orang lain yang hidup lebih baik daripada kita. Allah yang memberikan rezeki. Melihat orang lain yang hidup kurang dari kita akan membuat kita bersyukur. Dan ini akan memberikan banyak manfaat kepada kita.
Berikan Pasangan Waktu untuk Sendiri
Bila pasangan Anda tidak ingin selalu bersama sepanjang waktu, tidak berarti dia tidak mencintai Anda. Orang membutuhkan waktu untuk sendiri dengan berbagai alasan. Terkadang mereka ingin membaca, memikirkan masalah pribadi atau hanya ingin rileks. Jangan membuat mereka merasa berdosa ketika ingin sendiri.
Mengakui Kesalahan
Ketika membuat kesalahan, akui. Ketika pasangan membuat sebuah kesalahan, segera maafkan. Jangan membawa kemarahan di waktu tidur.
Jaga Rahasia
Jangan pernah mendiskusikan pernak-pernik pernikahan dengan orang lain, kecuali jika ada alasan syar’i untuk melakukannya. Beberapa suami-istri, sengaja atau tidak, kerap membicarakan kondisi fisik pasangan mereka kepada orang lain.
Begitulah, pernikahan yang baik memerlukan kesabaran dan keramahan, pengorbanan, empati, cinta, pengertian, kerja keras, saling memaafkan. Semuanya dapat dirangkaikan dalam satu kalimat: selalu memperlakukan pasangan dengan cara seperti kita inginkan orang lain lakukan terhadap kita
Suami bukan Penguasa
Meskipun Islam menjadikan suami sebagai pemimpin rumah tangga, tapi bukan kepemimpinan diktator atau tiran. Suami harus melayani istri dengan baik. Nabi SAW pernah bersabda “Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istri” (HR At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani).
Menjadi Partner
Buatlah keputusan bersama untuk keluarga. Keharmonisan rumah tangga akan lebih jika keputusan yang diambil tidak sepihak dan semua anggota keluarga menjadi bagian dari pengambilan keputusan tersebut.
Jangan Emosional
Jangan pernah emosional baik secara fisik maupun mental kepada pasangan. Nabi SAW tidak pernah menyakiti istrinya. Nabi SAW pernah bersabda “bagaimana mereka bisa berbuat menjadikan istri-istri mereka di siang hari sebagai budak, dan tidur dengan istri mereka di malam hari.”
Menjaga Lisan
Hati-hati dengan ucapan yang engkau katakan ketika dalam keadaan sedih atau emosional. Terkadang akan keluar ungkapan yang tidak pernah diucapkan ketika tidak marah.
Tunjukkan Apresiasi
Jangan pernah membuat pasangan merasa bahwa dia tidak cukup baik pada keluarga atau tidak memuaskan dengan apa yang dia lakukan atau perkerjaannya. Nabi SAW bersabda “pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya”.
Berkomunikasi
Komunikasi adalah hal yang penting. Komunikasi, komunikasi, komunikasi! adalah kata-kata yang sering diucapkan dalam konseling dan memang hal tersebut perlu dilakukan. Suami istri perlu saling berbicara. Lebih baik jika dalam menghadapi masalah dibicarakan lebih dini dan terbuka,
Banyak Bersyukur
Jangan merasa cemburu dengan orang lain yang hidup lebih baik daripada kita. Allah yang memberikan rezeki. Melihat orang lain yang hidup kurang dari kita akan membuat kita bersyukur. Dan ini akan memberikan banyak manfaat kepada kita.
Berikan Pasangan Waktu untuk Sendiri
Bila pasangan Anda tidak ingin selalu bersama sepanjang waktu, tidak berarti dia tidak mencintai Anda. Orang membutuhkan waktu untuk sendiri dengan berbagai alasan. Terkadang mereka ingin membaca, memikirkan masalah pribadi atau hanya ingin rileks. Jangan membuat mereka merasa berdosa ketika ingin sendiri.
Mengakui Kesalahan
Ketika membuat kesalahan, akui. Ketika pasangan membuat sebuah kesalahan, segera maafkan. Jangan membawa kemarahan di waktu tidur.
Jaga Rahasia
Jangan pernah mendiskusikan pernak-pernik pernikahan dengan orang lain, kecuali jika ada alasan syar’i untuk melakukannya. Beberapa suami-istri, sengaja atau tidak, kerap membicarakan kondisi fisik pasangan mereka kepada orang lain.
Begitulah, pernikahan yang baik memerlukan kesabaran dan keramahan, pengorbanan, empati, cinta, pengertian, kerja keras, saling memaafkan. Semuanya dapat dirangkaikan dalam satu kalimat: selalu memperlakukan pasangan dengan cara seperti kita inginkan orang lain lakukan terhadap kita
kebahagian semu ato kabahgiaan hakiki
Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!
Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!
Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!
Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Dan sangkaan-sangkaan lain..
Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan.
Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan.
Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan.
Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak.
Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam kegemilangan kekuasaan.
Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan.
Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya.
Namun, setelah kuasa di dalam genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti..
Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik atau pria gagah nan tampan.
Dia menyangka setelah menikah dengan seorang wanita cantik atau pria gagah nan tampan, maka dia akan bahagia.
Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya kandas.
Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik atau pria gagah nan tampan.
Namun, kecantikan dan ketampanan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana.
Pujian yang bertabur dari umat manusia tak membuatnya bahagia.
Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta.
Dia menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan.
Maka, setelah dia dapat, dia menjadi pecinta harta.
Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung menyinggahinya.
Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah.
Hidupnya penuh porblema.
Masalah demi masalah membelitnya.
Tak jarang, harta justru membawa bencana.
Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara dan keluarga…
Disini Ada Bahagia..
Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah, yang senantiasa dikejar oleh manusia.
Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera.
Tapi, apakah yang dimaksud bahagia?
Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri.
Kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keimanan, dan berperilaku sesuai dengan keimanannya itu.
Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan; yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan.
Dalam kondisi apa pun, hidupnya bahagia, karena dia sudah mengenal Allah, ridha dengan keputusan Allah, dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusanNya.
Dia benar-benar menjadi hamba Allah.
Dalam kondisi apa pun, dalam posisi apa pun, manusia semacam ini akan hidup dalam kebahagiaan.
Hidupnya hanya mengacu kepada Allah, dan tidak terlalu peduli dengan reaksi manusia terhadapnya.
Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu; bahagia lahir dan batin, dunia dan akhirat…
Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!
Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!
Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Dan sangkaan-sangkaan lain..
Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan.
Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan.
Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan.
Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak.
Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam kegemilangan kekuasaan.
Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan.
Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya.
Namun, setelah kuasa di dalam genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti..
Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik atau pria gagah nan tampan.
Dia menyangka setelah menikah dengan seorang wanita cantik atau pria gagah nan tampan, maka dia akan bahagia.
Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya kandas.
Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik atau pria gagah nan tampan.
Namun, kecantikan dan ketampanan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana.
Pujian yang bertabur dari umat manusia tak membuatnya bahagia.
Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta.
Dia menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan.
Maka, setelah dia dapat, dia menjadi pecinta harta.
Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung menyinggahinya.
Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah.
Hidupnya penuh porblema.
Masalah demi masalah membelitnya.
Tak jarang, harta justru membawa bencana.
Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara dan keluarga…
Disini Ada Bahagia..
Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah, yang senantiasa dikejar oleh manusia.
Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera.
Tapi, apakah yang dimaksud bahagia?
Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri.
Kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keimanan, dan berperilaku sesuai dengan keimanannya itu.
Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan; yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan.
Dalam kondisi apa pun, hidupnya bahagia, karena dia sudah mengenal Allah, ridha dengan keputusan Allah, dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusanNya.
Dia benar-benar menjadi hamba Allah.
Dalam kondisi apa pun, dalam posisi apa pun, manusia semacam ini akan hidup dalam kebahagiaan.
Hidupnya hanya mengacu kepada Allah, dan tidak terlalu peduli dengan reaksi manusia terhadapnya.
Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu; bahagia lahir dan batin, dunia dan akhirat…
Kamis, 19 April 2012
kelembutan istri dalam rumah tangga
Kelembutan memberikan pengaruh besar dalam sebuah rumah tangga.
Anugrah Allah yang satu ini, yang biasanya menjadi hak milik para istri,
akan selalunya memberikan sebuah kebahagiaan. Kelembutan berarti
berarti bersabar memahami orang lain, Kelembutan berarti ikhlas dalam
senyum menerima apapun yang terjadi dan mewujudkannya dalam sikap yang
terbaik, kelembutan berarti membalas betapapun sakitnya perlakuan orang
lain dengan sebuah pembalasan yang justru dapat membahagiakannya.
Kelembutan juga berarti menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan orang
lain tanpa harus menyakiti.
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh Shalallaahu 'Alayhi Wasallam yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh Shalallaahu 'Alayhi Wasallam tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau Shalallaahu 'Alayhi Wasallam membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. Subhanallah…
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata.
Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata “aku ingin..” sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia.
~ Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.~
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan.
Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah “gengsi” yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita.
Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata’ala.
~ Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.~
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan.
Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri.
Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak.
Sungguh, kedengaran berat sepertinya.
Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita.
Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan (Syahidah)
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh Shalallaahu 'Alayhi Wasallam yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh Shalallaahu 'Alayhi Wasallam tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau Shalallaahu 'Alayhi Wasallam membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. Subhanallah…
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata.
Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata “aku ingin..” sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia.
~ Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.~
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan.
Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah “gengsi” yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita.
Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata’ala.
~ Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.~
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan.
Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri.
Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak.
Sungguh, kedengaran berat sepertinya.
Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita.
Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan (Syahidah)
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
Kamis, 12 April 2012
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul
Di masyarakat Indonesia, terutama bagi kalangan suami istri, ada 1 hal yg sering dijadikan guyonan (tapi serius), yakni adanya ’sunnah Rasul’ tiap malam Jum’at (Kamis malam). Yang dimaksud dg sunnah Rasul di sini adalah hubungan suami istri, tentu saja dengan pasangannya yg sah ya? Hahaha…
Jadi sunnah Rasul di malam Jum’at bisa diartikan (akan) ada pasutri yg melakukan hubungan suami istri di malam Jum’at.
Adalah hal yg menarik mencermati (sedikitnya) 2 hal berikut:
1. Mengapa ‘mesti’ malam Jum’at?
2. Dan mengapa disebut sunnah Rasul?
saya coba menelaah dengan yg saya ketahui, jadi unsur subyektifitasnya akan sangat tinggi.
1. Mengapa ‘mesti’ malam Jum’at?
Sebenarnya, TIDAK ADA KETENTUAN/DALIL KHUSUS yg menjelaskan berhubungan suami istri mesti di malam Jum’at. Setidaknya itu yg saya ketahui selama ini. Apabila memang ada saudara2 yg tahu, dengan senang hati saya akan menerimanya.
Jika memang dalil itu ada, maka kasihan sekali pasangan pengantin baru, yg mesti menunggu malam Jum’at untuk bisa menuntaskan dan menumpahkan rasa kasih sayang mereka. Sementara di 6 hari lainnya, saya tidak tahu pasti apa yang mereka lakukan.
Hanya saja, saya melihat adanya keterkaitan antara hubungan suami istri di malam Jum’at, puasa Senin-Kamis, dan program kehamilan. Ya, keterkaitan ini mungkin memang ‘akal2an’ saya saja. Tidak ada dasar pastinya, tapi (menurut saya) cukup masuk akal.
Jadi begini. Salah satu ibadah yg disarankan Rasululloh SAW adalah puasa Senin-Kamis. Senin ke Kamis ada waktu 3 hari. Menurut ilmu kedokteran yg pernah saya baca, sperma akan mencapai puncak kematangan di hari ke-3. Dengan kata lain, sperma yg tidak keluar selama 3 hari akan mempunyai kualitas terbaik, insya ALLOH.
Dengan demikian, bagi pasutri yg punya program ingin mempunyai anak, sebaiknya melakukan puasa Senin-Kamis (terutama bagi suaminya), dan baru berhubungan di hari Kamis (malam Jum’at) sehingga benih yg dikeluarkan adalah benih terbaik.
Hal yg sama, dari Jum’at ke Senin ada waktu sekitar 3-4 hari. Jadi, usai buka puasa di hari Senin pasutri (yg punya program memiliki momongan) bisa meneruskannya dengan hubungan suami istri karena kualitas spermanya adalah yg terbaik.
Masuk akal bukan?
Yang kedua, alasan berhubungan suami istri di malam Jum’at, saya pikir ada hubungannya dengan hadits Rasululloh SAW berikut ini:
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat (mandi besar), kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)
Dugaan saya, daripada melakukan mandi besar tanpa ‘alasan’ yg jelas, maka malam Jum’atnya berhubungan suami istri. Sehingga saat Subuh, tinggal lakukan mandi wajib dg hati yg ikhlas.
2. Dan mengapa disebut sunnah Rasul?
Ini juga yg saya bingungkan. Kenapa sunnah Rasul diidentikkan dg hubungan suami istri? Padahal banyak sekali sunnah Rasul yg juga bisa dilakukan di malam Jum’at. Tahajud, tadarus, adalah sebagian dari sunnah Rasul tersebut.
Dugaan saya, istilah sunnah Rasul ini sebagai pengganti kata berhubungan suami istri. Karena di Indonesia, hal2 yg terkait dg sex cukup tabu dibicarakan secara terbuka, karena akan dianggap vulgar, maka digunakan istilah sunnah Rasul sbg pengganti.
Saya hanya menyayangkan penyempitan makna dari sunnah Rasul, yg mestinya luas, menjadi berkonotasi ke hubungan suami istri. Kasihan sekali kaum muslim yg belum menikah, jika penyempitan makna ini kian mewabah dan memasyarakat, karena mereka belum mempunyai pasangan yg sah. Tidak mungkin mereka ber-onani hanya untuk mengejar bisa mandi wajibnya.
Kesimpulannya:
- berhubungan suami istri tidak mesti dilakukan di hari Kamis (malam Jum’at). kecuali bagi yg punya program ingin mempunyai momongan, mungkin bisa dijadikan salah satu pertimbangan.
- kini ada penyempitan makna dari sunnah Rasul. jika digunakan sebagai upaya memperhalus ungkapan hubungan suami istri, it’s ok, tapi salah kaprah ini akan berdampak buruk jika dimaknai dan dipahami dg kacamata kuda.
Jadi, : apakah malam ini anda dan pasangan menuaikan Sunnah Rasul ?
Semoga berguna.
tambahan
Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum. Ustadz, saya sering mendengar dari kebanyakan orang yang mengatakan bahwa berhubungan suami/istri (jima’) pada malam Jumat adalah sunah Nabi. Bahkan ada yang menghubungkan dengan keutamaan seperti membunuh kaum Yahudi. Apakah benar adanya?
Jawaban :
Wa’alaikumussalam. Kami belum pernah menemukan ayat Alquran atau hadis sahih yang menunjukkan anjuran tersebut. Jika ada yang menyampaikan hal tersebut maka dia diminta untuk menyampaikan dalil. (Jawaban Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)
Tambahan dari Ustadz Ammi Nur Baits:
Terdapat sebuah hadis yang mengisyaratkan hal ini: Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من اغتسل يوم الجمعة وغسّل وغدا وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام وأنصت ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة
“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Imam An-Nawawi dan Syekh Al-Albani)
Sebagian ulama mengatakan, “Kami belum pernah mendengar satu hadis sahih dalam syariat yang memuat pahala yang sangat banyak selain hadis ini.” Karena itu, sangat dianjurkan untuk melakukan semua amalan di atas, untuk mendapatkan pahala yang diharapkan.” (Al-Mirqah, 5:68)
Disebutkan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, bahwa ada sebagian ulama yang mengartikan kata “memandikan” dengan ‘menggauli istri’, karena ketika seorang suami menggauli istri, berarti, dia memandikan istrinya. Dengan melakukan hal ini sebelum berangkat shalat Jumat, seorang suami akan lebih bisa menekan syahwatnya dan menahan pandangannya ketika menuju masjid. (Lihat Aunul Ma’bud, 2:8)
Jika kita menganggap pendapat ini adalah pendapat yang kuat maka anjuran melakukan hubungan suami-istri di hari Jumat seharusnya dilakukan sebelum berangkat shalat Jumat di siang hari, bukan di malam Jumat karena batas awal waktu mandi untuk shalat Jumat adalah setelah terbit fajar hari Jumat.
Wallahu a'lam.
Jadi sunnah Rasul di malam Jum’at bisa diartikan (akan) ada pasutri yg melakukan hubungan suami istri di malam Jum’at.
Adalah hal yg menarik mencermati (sedikitnya) 2 hal berikut:
1. Mengapa ‘mesti’ malam Jum’at?
2. Dan mengapa disebut sunnah Rasul?
saya coba menelaah dengan yg saya ketahui, jadi unsur subyektifitasnya akan sangat tinggi.
1. Mengapa ‘mesti’ malam Jum’at?
Sebenarnya, TIDAK ADA KETENTUAN/DALIL KHUSUS yg menjelaskan berhubungan suami istri mesti di malam Jum’at. Setidaknya itu yg saya ketahui selama ini. Apabila memang ada saudara2 yg tahu, dengan senang hati saya akan menerimanya.
Jika memang dalil itu ada, maka kasihan sekali pasangan pengantin baru, yg mesti menunggu malam Jum’at untuk bisa menuntaskan dan menumpahkan rasa kasih sayang mereka. Sementara di 6 hari lainnya, saya tidak tahu pasti apa yang mereka lakukan.
Hanya saja, saya melihat adanya keterkaitan antara hubungan suami istri di malam Jum’at, puasa Senin-Kamis, dan program kehamilan. Ya, keterkaitan ini mungkin memang ‘akal2an’ saya saja. Tidak ada dasar pastinya, tapi (menurut saya) cukup masuk akal.
Jadi begini. Salah satu ibadah yg disarankan Rasululloh SAW adalah puasa Senin-Kamis. Senin ke Kamis ada waktu 3 hari. Menurut ilmu kedokteran yg pernah saya baca, sperma akan mencapai puncak kematangan di hari ke-3. Dengan kata lain, sperma yg tidak keluar selama 3 hari akan mempunyai kualitas terbaik, insya ALLOH.
Dengan demikian, bagi pasutri yg punya program ingin mempunyai anak, sebaiknya melakukan puasa Senin-Kamis (terutama bagi suaminya), dan baru berhubungan di hari Kamis (malam Jum’at) sehingga benih yg dikeluarkan adalah benih terbaik.
Hal yg sama, dari Jum’at ke Senin ada waktu sekitar 3-4 hari. Jadi, usai buka puasa di hari Senin pasutri (yg punya program memiliki momongan) bisa meneruskannya dengan hubungan suami istri karena kualitas spermanya adalah yg terbaik.
Masuk akal bukan?
Yang kedua, alasan berhubungan suami istri di malam Jum’at, saya pikir ada hubungannya dengan hadits Rasululloh SAW berikut ini:
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat (mandi besar), kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)
Dugaan saya, daripada melakukan mandi besar tanpa ‘alasan’ yg jelas, maka malam Jum’atnya berhubungan suami istri. Sehingga saat Subuh, tinggal lakukan mandi wajib dg hati yg ikhlas.
2. Dan mengapa disebut sunnah Rasul?
Ini juga yg saya bingungkan. Kenapa sunnah Rasul diidentikkan dg hubungan suami istri? Padahal banyak sekali sunnah Rasul yg juga bisa dilakukan di malam Jum’at. Tahajud, tadarus, adalah sebagian dari sunnah Rasul tersebut.
Dugaan saya, istilah sunnah Rasul ini sebagai pengganti kata berhubungan suami istri. Karena di Indonesia, hal2 yg terkait dg sex cukup tabu dibicarakan secara terbuka, karena akan dianggap vulgar, maka digunakan istilah sunnah Rasul sbg pengganti.
Saya hanya menyayangkan penyempitan makna dari sunnah Rasul, yg mestinya luas, menjadi berkonotasi ke hubungan suami istri. Kasihan sekali kaum muslim yg belum menikah, jika penyempitan makna ini kian mewabah dan memasyarakat, karena mereka belum mempunyai pasangan yg sah. Tidak mungkin mereka ber-onani hanya untuk mengejar bisa mandi wajibnya.
Kesimpulannya:
- berhubungan suami istri tidak mesti dilakukan di hari Kamis (malam Jum’at). kecuali bagi yg punya program ingin mempunyai momongan, mungkin bisa dijadikan salah satu pertimbangan.
- kini ada penyempitan makna dari sunnah Rasul. jika digunakan sebagai upaya memperhalus ungkapan hubungan suami istri, it’s ok, tapi salah kaprah ini akan berdampak buruk jika dimaknai dan dipahami dg kacamata kuda.
Jadi, : apakah malam ini anda dan pasangan menuaikan Sunnah Rasul ?
Semoga berguna.
tambahan
Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum. Ustadz, saya sering mendengar dari kebanyakan orang yang mengatakan bahwa berhubungan suami/istri (jima’) pada malam Jumat adalah sunah Nabi. Bahkan ada yang menghubungkan dengan keutamaan seperti membunuh kaum Yahudi. Apakah benar adanya?
Jawaban :
Wa’alaikumussalam. Kami belum pernah menemukan ayat Alquran atau hadis sahih yang menunjukkan anjuran tersebut. Jika ada yang menyampaikan hal tersebut maka dia diminta untuk menyampaikan dalil. (Jawaban Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)
Tambahan dari Ustadz Ammi Nur Baits:
Terdapat sebuah hadis yang mengisyaratkan hal ini: Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من اغتسل يوم الجمعة وغسّل وغدا وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام وأنصت ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة
“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Imam An-Nawawi dan Syekh Al-Albani)
Sebagian ulama mengatakan, “Kami belum pernah mendengar satu hadis sahih dalam syariat yang memuat pahala yang sangat banyak selain hadis ini.” Karena itu, sangat dianjurkan untuk melakukan semua amalan di atas, untuk mendapatkan pahala yang diharapkan.” (Al-Mirqah, 5:68)
Disebutkan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, bahwa ada sebagian ulama yang mengartikan kata “memandikan” dengan ‘menggauli istri’, karena ketika seorang suami menggauli istri, berarti, dia memandikan istrinya. Dengan melakukan hal ini sebelum berangkat shalat Jumat, seorang suami akan lebih bisa menekan syahwatnya dan menahan pandangannya ketika menuju masjid. (Lihat Aunul Ma’bud, 2:8)
Jika kita menganggap pendapat ini adalah pendapat yang kuat maka anjuran melakukan hubungan suami-istri di hari Jumat seharusnya dilakukan sebelum berangkat shalat Jumat di siang hari, bukan di malam Jumat karena batas awal waktu mandi untuk shalat Jumat adalah setelah terbit fajar hari Jumat.
Wallahu a'lam.
Selasa, 10 April 2012
Kekaguman pada yang Tak Pernah Dibaca i
HARI Kartini, yang diperingati setiap tanggal 21 April, selalu terekam kenangan tentang bagaimana hari tersebut diperingati. Lomba kebaya dan lagu "Ibu Kita Kartini", demikianlah kenangan itu. Di sekolah-sekolah dasar, sudah merupakan pemandangan tahunan jika peringatan ditandai dengan parade gadis-gadis kecil berkebaya bak potret atau gambar Kartini.
DARI peringatan tahun ke tahun, akhirnya timbul satu pertanyaan: apa yang kebanyakan orang ketahui tentang Kartini? Selain tentang tanggal kelahirannya pada 21 April 1879 di Jepara, bisa dipastikan khalayak juga tahu tentang surat-surat Kartini yang terkumpul dalam sebuah buku dan diberi judul "Habis Gelap Terbitlah Terang". Judul buku kumpulan surat-surat Kartini kepada beberapa sahabatnya di Belanda ini memang sudah amat dikenal orang. Semacam pengetahuan umum yang wajib diketahui.
Namun sayangnya, kepopuleran "Habis Gelap Terbitlah Terang" di negeri ini bukan berarti telah banyak orang yang benar-benar mengetahui isi surat-surat Kartini. Padahal, apa makna peringatan Hari Kartini bisa dipahami semata-mata hanya dengan mengetahui buah- buah pikirannya dalam surat-surat tersebut. Hasil jajak pendapat menguatkan "tuduhan" ini. Sebagian besar responden yang mengetahui atau pernah mendengar tentang buku kumpulan surat Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang", mengaku belum pernah membaca kumpulan surat Kartini. Bahkan ironisnya, hampir separuh responden tersebut menyatakan tidak pernah melihat "wujud" buku tersebut.
KUMPULAN surat Kartini pertama kali diterbitkan dalam sebuah buku berjudul "Door Duisternis Tot Licht" pada tahun 1911. Buku tersebut disusun oleh JH Abendanon, salah seorang sahabat pena Kartini yang saat itu menjabat sebagai menteri (direktur) kebudayaan, agama, dan kerajinan Hindia Belanda. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L Symmers.
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran". Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara. Pada 1938, buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.
Seperti telah diungkap sebelumnya, dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang", Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.
Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdap`t 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
Pembahasan atau bab pertama berjudul: Dirudung cita- cita, dihambar kasih sayang. Surat-surat Kartini pada bagian ini terutama berisi harapannya untuk memperoleh "pertolongan" dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia ungkapkan juga tentang pandangan: dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." (hlm 45).
Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan "tersedia" untuk dimadu pula. Pada bab awal ini, gugatan-gugatan Kartini ditampilkan untuk menggambarkan kekritisannya sebagai perempuan Jawa.
Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan menyajikan surat-surat Kartini yang isinya banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.
Kartini sangat mencintai sang ayah. Namun ternyata, cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah, dalam surat, juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi-terutama ke Eropa-memang diungkap dalam surat-surat. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Dan ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa s`ya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." (hlm 193). Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Kartini akhirnya menikah dengan bupati Rembang pada tanggal 12 November 1903. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Kartini wafat pada 13 September 1904 setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada surat-surat terakhir kepada suami istri Abendanon, Kartini sudah mengetahui perihal ajal yang hampir tiba. Surat terakhir ditujukan pada Nyonya Abendanon, 7 September 1904. Kartini wafat pada usia 25 tahun. Demikian surat-surat Kartini yang dirangkai oleh Armijn Pane dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang".
BUKU kumpulan surat-surat Kartini, selain diterjemahkan Armijn Pane, kemudian juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan "Door Duisternis Tot Licht" di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1969, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap "Door Duisternis Tot Licht" pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya". Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia (hlm v).
Salah satu alasan mengapa Sulastin berkeinginan menerjemahkan secara lengkap "Door Duisternis Tot Licht" adalah karena dipandang semakin lama semakin sedikit orang di negeri ini yang menguasai bahasa Belanda. Dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, surat-surat Kartini akan dapat dibaca oleh banyak orang.
Berbeda dengan "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang oleh Armhjn Pane sengaja dibuat lebih ringkas, buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada "Door Duisternis Tot Licht". Selain diterbitkan dalam "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya", terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku "Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya".
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah "Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904". Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam "Door Duisternis Tot Licht" versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong "sensitif" dan tidak ada dalam "Door Duisternis Tot Licht" versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku "Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904" memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
BUKU-buku kumpulan surat Kartini, sampai saat ini masih terus dicetak dan beredar di pasar. Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah "Panggil Aku Kartini Saja" karya Pramoedya Ananta Toer. Buku "Panggil Aku Kartini Saja" terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya. Banyaknya buku yang membicarakan tentang Kartini sampai saat ini menjadi suatu indikasi keistimewaan pribadi dirinya. Namun, selain mengundang decak kagum banyak kalangan di berbagai negeri, surat-surat Kartini juga mengundang gugatan dan perdebatan. Gugatan-gugatan tidak hanya ditujukan pada surat-surat Kartini saja, juga konsistensi pada apa yang ia kritik dan perjuangkan. Kartini dianggap mengkhianati perjuangannya sendiri dengan "menerima" poligami.
Ada kalangan yang meragukan "kebenaran" surat-surat Kartini. Ada dugaan JH Abendanon, menteri (direktur) kebudayaan, agama, dan kerajinan saat itu, merekayasa surat- surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di negara-negara jajahannya, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan. Apalagi, hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Jangankan menemukan surat, menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan JH Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Demikian "hebat"-nya surat-surat yang dibuat Kartini kepada sahabat-sahabat penanya. Sayangnya, di negeri asalnya sendiri masih banyak yang belum pernah melihat wujud buku kumpulan surat Kartini, apalagi membacanya.
Minggu, 08 April 2012
kutipan tanya jawab ttg kartini
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Beberapa waktu yang lalu saya membeli buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" yang ditulis oleh Artawijaya dan diterbitkan oleh Penerbit Al Kautsar. Saya sudah hampir selesai membaca buku itu. Namun ada yang mengganjal di hati. Dalam pembahasannya tentang Kartini, Artawijaya mengulas surat-surat Kartini dan menurut analisa beliau, Kartini kemungkinan adalah anggota Theosofi atau paling tidak terpengaruh oleh pemikiran Theosofi yang berakar dari Freemasonry.
Sementara, dalam sejumlah artikel yang pernah saya baca, Kartini disebutkan sebagai pejuang wanita yang mencoba memperjuangkan nilai-nilai Islam. Sebenarnya manakah yang benar: apakah Kartini seorang Theosof; terpengaruh oleh Theosofi, ataukah Kartini seorang priyayi Jawa yang mencoba memperjuangkan nilai-nilai Islam dari belenggu adat?Mohon penjelasannya.
wanttowakeup
Jazakallah khoiron atas pertanyaan dari saudara wanttowakeup. Mulai hari ini saya akan mencoba untuk membantu eramuslim dalam menjawab pertanyaan seputar dunia konspirasi. Memang dunia ini sangatlah menarik untuk diperbincangkan.
Saudara Wanttowakeup yang dikarunia Allah, melihat anda menanyakan dunia theosofi yang ada dalam pemikiran Kartini dari draft artikel yang anda baca. Alangkah menarik jika anda berkenan menyertakan pula artikel yang dimaksud, agar bisa kita telusuri bersama-sama.
Nama Theosofi sendiri diambil dari bahasa latin: Theos yang berarti “God” (Tuhan) dan Sophia yang berarti “wisdom” (Kebijaksanaan). “God” dalam pemahaman Theosofi tidak berarti satu, tetapi merujuk pada setiap hal yang dianggap sebagai “Tuhan”. Karena itu, Tuhan dalam kepercayaan Theosofi punya banyak nama: God, Yahweh, Allah, dll. Theosofi berkeyakinan bahwa setiap agama sama benar, dan menuju pada Tuhan yang sama.
Doktrin ini sekarang serupa dengan gagasan ide Pluralisme Agama. Sedangkan jauh sebelum theosofi, nilai penyatuan agama-agama di dengungkan lewat nama Perenialisme.
Jika melihat definisi itu kita bisa mendudukkan masalah dengan mengacu kepada sederetan ucapan-ucapan Kartini kepada Ny. Abendanon yang dituangkan dalam surat-suratnya. Saya coba akan lampirkan dibawah ini:
”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan,adalah bunyi tanpa makna.” (Surat Kartini Kepada E.C Abendanon, 15 Agustus 1902)
”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain.” (Surat 31 Januari 1903)
"Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E.C Abendanon, 31 Januari 1903).
Nyonya Abendanon sendiri tempat Kartini bercerita, adalah seorang wanita yang ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Abendanon tercatat banyak meminta nasihat dari seorang orientalis kawakan bernama Snouck Hurgronye. Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras perlawanannya kepada Belanda adalah golongan Islam.
Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat kecuali jika ningratnya dibaratkan terlebih dahulu. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh untuk kemudian dibaratkan. Hungronye menyarankan kepada Abendanon agar membaratkan Kartini.
Artawijaya sendiri dalam bukunya Gerakan Theosofi di Indonesia seperti anda katakan memang mengarah pada dugaan kemungkinan, namun secara jelas menyimpukan ahwa Kartini pada kategori terpengaruh Theosofi.
Sedangkan apakah Kartini sebagai wanita juga menyuarakan hak-hak nilai Islam? Jawaban ini memang sempat diungkapkan oleh Profesor Ahmad Mansyur Suryanegara. Prof. Mansur mencoba menggambarkan Kartini yang dipilihnya secara “lebih Islami” dengan giat memendung misi kristenisasi. Hal ini merujuk kepada ucapan Kartini kepada Ny Abendanon.
“Bagaimana pendapatmu tentang Zending? Jika bermaksud baik atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi…bagi orang Islam melepaskan keyakinan sendiri untuk memluk agama lain merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?”(kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903)
Namun mengacu pada surat di tanggal yang sama seperti telah saya kutip sebelumnya, Kartini juga menolak Islamisasi, Budhaisasi, dan pendoktrinan pada satu agama. Dari sinilah kemudian kita menyimpulkan bahwa Kartini memang sangat kuat terinflitrasi Theosofi.
Selain itu, bukti Kartini memperjuangkan nilai-nilai Islam juga diragukan oleh Tiar Anwar Bachtiar. Kandidat Doktor Sejarah dari Universitas Indonesia ini dalam tulisannya “Mengapa Harus Kartini?” pada pada jurnal islamia (insists-republika) edisi 9 april 2009 lalu, mempertanyakan apakah betul Kartini memperjuangkan nilai-nilai Islam sebagai wanita.
Padahal banyak wanita muslim yang lebih riel berbuat ketimbang Kartini yang hanya melakukan surat menyurat lalu diterbitkan. Kartini tidak terlihat berbuat nyata dalam memperjuangkan hak wanita secara faktual mengingat justru ia banyak bergaul dengan bangsawan-bangsawan Belanda dan terlibat diskusi. Bahkan buku Habislah Gelap Terbitlah Terang diterbitkan Belanda enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911.
Ada banyak tokoh-tokoh muslimah Indonesia yang sudah lebih jauh melangkah mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Rohana Kudus, misalnya, jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Selain itu juga ada Dewi Sartika (1884-1947). Wanita ini tidak sekedar berwacana tentang pendidikan kaum wanita, namun juga mendirikan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.
Cut Nyak Dien bahkan, ia tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Namun berbeda dengan Kartini yang melihat Belanda sebagai tempat tujuannya. “Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland (Belanda), karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih” (kepada Ny. Ovinksoer, 1900)
Selain itu, Harsja W. Bahtiar dalam artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” yang teragkum dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4) melakukan gugatan terhadap penokohan Kartini. Harsja W. Bahtiar menilai bahwa selama ini kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia sebenarnya lebih kepada kosntruk orang-orang Belanda.
Akhirnya dengan fakta-fakta ini kita bisa lebih clear melihat bahwa pandangan Kartini tentang agama sangat terpengaruh kuat oleh Theosofi, dan fakta bahwa Kartini memperjuangkan nilai-nilai Islam sebagai seorang wanita masih bisa dipertanyakan. Wallahua’lam.
Beberapa waktu yang lalu saya membeli buku "Gerakan Theosofi di Indonesia" yang ditulis oleh Artawijaya dan diterbitkan oleh Penerbit Al Kautsar. Saya sudah hampir selesai membaca buku itu. Namun ada yang mengganjal di hati. Dalam pembahasannya tentang Kartini, Artawijaya mengulas surat-surat Kartini dan menurut analisa beliau, Kartini kemungkinan adalah anggota Theosofi atau paling tidak terpengaruh oleh pemikiran Theosofi yang berakar dari Freemasonry.
Sementara, dalam sejumlah artikel yang pernah saya baca, Kartini disebutkan sebagai pejuang wanita yang mencoba memperjuangkan nilai-nilai Islam. Sebenarnya manakah yang benar: apakah Kartini seorang Theosof; terpengaruh oleh Theosofi, ataukah Kartini seorang priyayi Jawa yang mencoba memperjuangkan nilai-nilai Islam dari belenggu adat?Mohon penjelasannya.
wanttowakeup
Jawaban
Wa’alaikumsalam wr.wb.Jazakallah khoiron atas pertanyaan dari saudara wanttowakeup. Mulai hari ini saya akan mencoba untuk membantu eramuslim dalam menjawab pertanyaan seputar dunia konspirasi. Memang dunia ini sangatlah menarik untuk diperbincangkan.
Saudara Wanttowakeup yang dikarunia Allah, melihat anda menanyakan dunia theosofi yang ada dalam pemikiran Kartini dari draft artikel yang anda baca. Alangkah menarik jika anda berkenan menyertakan pula artikel yang dimaksud, agar bisa kita telusuri bersama-sama.
Nama Theosofi sendiri diambil dari bahasa latin: Theos yang berarti “God” (Tuhan) dan Sophia yang berarti “wisdom” (Kebijaksanaan). “God” dalam pemahaman Theosofi tidak berarti satu, tetapi merujuk pada setiap hal yang dianggap sebagai “Tuhan”. Karena itu, Tuhan dalam kepercayaan Theosofi punya banyak nama: God, Yahweh, Allah, dll. Theosofi berkeyakinan bahwa setiap agama sama benar, dan menuju pada Tuhan yang sama.
Doktrin ini sekarang serupa dengan gagasan ide Pluralisme Agama. Sedangkan jauh sebelum theosofi, nilai penyatuan agama-agama di dengungkan lewat nama Perenialisme.
Jika melihat definisi itu kita bisa mendudukkan masalah dengan mengacu kepada sederetan ucapan-ucapan Kartini kepada Ny. Abendanon yang dituangkan dalam surat-suratnya. Saya coba akan lampirkan dibawah ini:
”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan,adalah bunyi tanpa makna.” (Surat Kartini Kepada E.C Abendanon, 15 Agustus 1902)
”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain.” (Surat 31 Januari 1903)
"Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E.C Abendanon, 31 Januari 1903).
Nyonya Abendanon sendiri tempat Kartini bercerita, adalah seorang wanita yang ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Abendanon tercatat banyak meminta nasihat dari seorang orientalis kawakan bernama Snouck Hurgronye. Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras perlawanannya kepada Belanda adalah golongan Islam.
Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat kecuali jika ningratnya dibaratkan terlebih dahulu. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh untuk kemudian dibaratkan. Hungronye menyarankan kepada Abendanon agar membaratkan Kartini.
Artawijaya sendiri dalam bukunya Gerakan Theosofi di Indonesia seperti anda katakan memang mengarah pada dugaan kemungkinan, namun secara jelas menyimpukan ahwa Kartini pada kategori terpengaruh Theosofi.
Sedangkan apakah Kartini sebagai wanita juga menyuarakan hak-hak nilai Islam? Jawaban ini memang sempat diungkapkan oleh Profesor Ahmad Mansyur Suryanegara. Prof. Mansur mencoba menggambarkan Kartini yang dipilihnya secara “lebih Islami” dengan giat memendung misi kristenisasi. Hal ini merujuk kepada ucapan Kartini kepada Ny Abendanon.
“Bagaimana pendapatmu tentang Zending? Jika bermaksud baik atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi…bagi orang Islam melepaskan keyakinan sendiri untuk memluk agama lain merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?”(kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903)
Namun mengacu pada surat di tanggal yang sama seperti telah saya kutip sebelumnya, Kartini juga menolak Islamisasi, Budhaisasi, dan pendoktrinan pada satu agama. Dari sinilah kemudian kita menyimpulkan bahwa Kartini memang sangat kuat terinflitrasi Theosofi.
Selain itu, bukti Kartini memperjuangkan nilai-nilai Islam juga diragukan oleh Tiar Anwar Bachtiar. Kandidat Doktor Sejarah dari Universitas Indonesia ini dalam tulisannya “Mengapa Harus Kartini?” pada pada jurnal islamia (insists-republika) edisi 9 april 2009 lalu, mempertanyakan apakah betul Kartini memperjuangkan nilai-nilai Islam sebagai wanita.
Padahal banyak wanita muslim yang lebih riel berbuat ketimbang Kartini yang hanya melakukan surat menyurat lalu diterbitkan. Kartini tidak terlihat berbuat nyata dalam memperjuangkan hak wanita secara faktual mengingat justru ia banyak bergaul dengan bangsawan-bangsawan Belanda dan terlibat diskusi. Bahkan buku Habislah Gelap Terbitlah Terang diterbitkan Belanda enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911.
Ada banyak tokoh-tokoh muslimah Indonesia yang sudah lebih jauh melangkah mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Rohana Kudus, misalnya, jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Selain itu juga ada Dewi Sartika (1884-1947). Wanita ini tidak sekedar berwacana tentang pendidikan kaum wanita, namun juga mendirikan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.
Cut Nyak Dien bahkan, ia tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Namun berbeda dengan Kartini yang melihat Belanda sebagai tempat tujuannya. “Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland (Belanda), karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih” (kepada Ny. Ovinksoer, 1900)
Selain itu, Harsja W. Bahtiar dalam artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” yang teragkum dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4) melakukan gugatan terhadap penokohan Kartini. Harsja W. Bahtiar menilai bahwa selama ini kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia sebenarnya lebih kepada kosntruk orang-orang Belanda.
Akhirnya dengan fakta-fakta ini kita bisa lebih clear melihat bahwa pandangan Kartini tentang agama sangat terpengaruh kuat oleh Theosofi, dan fakta bahwa Kartini memperjuangkan nilai-nilai Islam sebagai seorang wanita masih bisa dipertanyakan. Wallahua’lam.
Senin, 02 April 2012
Untuk mencari kebenaran dari dua kitab suci . Kitab Suci Al-Quran atau Kitab Suci Al-Kitab
.
An-Nisaa 171
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.
Kitab Wahyu
19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat."
Sama-sama menyembah Allah tetapi kenapa banyak perbedaan di Kisah Isa Almasih / Yesus.
Kita sama-sama cari kebenarannya dalam 2 kitab tersebut.
An-Nisaa 171
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.
Kitab Wahyu
19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat."
Sama-sama menyembah Allah tetapi kenapa banyak perbedaan di Kisah Isa Almasih / Yesus.
Kita sama-sama cari kebenarannya dalam 2 kitab tersebut.
...............................................................................................................................
keduanya akan selalu benar, akan selalu nomor satu seperti kecap. mustahil mencari kebenaran di antara 2 kitab samawi ini :)
kebenaran seperti apa yg anda cari?
trinitas mana yg benar? trinitas yg tersirat dalam alkitab atau trinitas yg tersurat dalam alquran seperti di ayat berikut ini?
[5.116] Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib".
...............................................................................................................................................
Sama-sama menyembah Allah tetapi kenapa banyak perbedaan di Kisah Isa Almasih / Yesus.
Samakah? dalam Islam Allah adalah esa, yang tidak beranak maupun diperanakkan, dalam kristen tidak begitu, jadi sebetulnya hal yang paling prinsipil, yaitu konsep ketuhanannya memang sudah berbeda.
Konsep ketuhanan haruslah bersifat kontinyu, karena tidak mungkin Tuhannya Adam berbeda dengan Tuhannya Isa maupun Tuhannya Muhammad, maka yang seharusnya lebih mudah diterima adalah konsep ketuhanan yang ada sejak jaman Adam bukan konsep yang baru muncul di awal tahun masehi.
Tuhan yang menciptakan tidak mungkin berbeda, terlepas manusia mengimani-NYA atau tidak.
...........................................................................................................................
1 Korintus 1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang
adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita
yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita
yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
......................................................................................................
Al-Maidah 110
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."
.........................................................................................................................................
An_Nisaa 157
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.
An-nisa 158
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
An-Nisaa 159
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.
An-nisa 158
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
An-Nisaa 159
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.
.....................................................................................................................................................
APA YANG AL QUR'AN KATAKAN?
APA YANG AL QUR'AN KATAKAN?
===========================
Ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis yang sepaham dengan Alkitab
1. Isa lahir oleh kuasa Roh Allah (Qs.21:91)
2. Isa itu Roh Allah dan firman-Nya (Hadis Anas bin Malik (hal. 72).
3. Isa itu Rasul Allah dan Firman-Nya (Qs.4:171)
4. Isa itu Jalan yang Lurus supaya diikuti (Qs.43:61)
5. Isa pembawa Terang supaya diikuti (Qs.43:63)
6. Isa diberi mujizat dan Roh Kudus (Qs.2:253)
7. Isa mengatakan perkataan yang benar (Qs.19:24)
8. Isa menyembuhkan orang buta sejak lahir (Qs.3:49)
9. Isa menghidupkan orang mati dari kubur (Qs.5:110)
10. Isa berkuasa di dunia dan akhirat (Qs.3:45)
11. Isa adalah satu-satunya Imam Mahdi (Hadis Ibnu Hajah)
12. Isa mati dan bangkit ke surga (Qs.3:45)
13. Isa lahir, mati dan dihidupkan kembali (Qs.19:33)
14. Isa akan diimani oleh semua ahli kitab (Qs.4:159)
15. Isa itu hakim yang adil pada akhir zaman (Hadis Sohim Muslim)
16. Isa itu yang awal dan yang akhir (Qs.57:3)
17. Taurat dan Injil harus dituruti (Qs.5:68)
18. Taurat dan Injil dibenarkan oleh Al Qur'an (Qs.32:23)
19. Taurat dan Injil adalah induk dari Al Qur'an (Qs.43:Az Zukryf 4)
20. Orang Kristen sahabat dekat orang Islam (Qs.5:82)
21. Orang murtad akan dipertemukan dengan orang Kristen (Qs.5 :54)
Ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis yang tidak sepaham dengan Alkitab:
1. Allah mereka adalah zat yang Maha Suci (Penjelasan Alfatihah)
2. Allah Tritunggal ajaran kafir (Qs.5 Al Maidah 73, 18)
3. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan (Qs.112 Al Iklas 3)
4. Allah Roh Kudus tidak ada (Qs.2 Al Baqarah 87)
5. Isa tidak dibunuh dan tidak disalib (Qs.An Nisa 157,158)
6. Isa bukan Tuhan tetapi nabi, Manusia (Qs.5 Al Maidah 72)
7. Isa hanya untuk Bangsa Israel (Mukadimah Al Qur'an hal 19)
8. Isa anak Maryam saudara Harun, anak Imran (Qs.19 Mariam 28)
9. Nubuat tentang Nabi Isa dianggap bagi Muhammad (Aq hal 52)
10. Alkitab sudah dikotori tangan manusia (Dialok)
Ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis yang tidak berkaitan dengan iman
Kristen:
1. Allah mereka ada di Mekah sebagai kiblat (Qs.2 Al Baqaroh 144)
2. Allah juga menciptakan jin-jin (Qs.15 Al Hajir 27)
3. Bagimu agamamu, bagiku agamaku (qs 109 Al Kqhfi 6)
4. Tidak boleh menjelek-jelekkan agama lain (Aq hal 87)
5. Islam adalah agama yang diridhoi Allah (Qs.3 Ali Imran 19)
6. Muhammad adalah utusan Allah (2 Kalimat Syahadat)
7. Al Qur'an berisi wahyu Allah (Aq hal 16)
8. Muhammad harus didoakan supaya selamat (Qs.33 Ahzab 56)
9. Muhamamad tidak dapat menyelamatkan anaknya (Hadis Bukhori)
10. Muhammad tidak tahu akan selamat tidaknya (Qs.46 Al Ahqaf 9)
11. Kalau ada 73 orang, insya Allah hanya seorang yang selamat.
(Hadis/Tempo)
12. Pada upacara pemakaman Insya Allah (Tradisi Mereka)
13. Jin-jin ada yang mukmin ada yang kafir (Mukadimah Qs.Al Jin)
14. Orang laki-laki minta tolong jin yang laki (Qs.72 Al Jin 6)
Surat Al Jin oleh beberapa orang digunakan untuk memperoleh:
- Harta kekayaan
- Kekebalan jasmani
- Santet
- Daya tarik atau pelet
- Kekuatan seksual, kekuatan ekstra dengan imbalan memberi konsesi
kepada jin.
===========================
Ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis yang sepaham dengan Alkitab
1. Isa lahir oleh kuasa Roh Allah (Qs.21:91)
2. Isa itu Roh Allah dan firman-Nya (Hadis Anas bin Malik (hal. 72).
3. Isa itu Rasul Allah dan Firman-Nya (Qs.4:171)
4. Isa itu Jalan yang Lurus supaya diikuti (Qs.43:61)
5. Isa pembawa Terang supaya diikuti (Qs.43:63)
6. Isa diberi mujizat dan Roh Kudus (Qs.2:253)
7. Isa mengatakan perkataan yang benar (Qs.19:24)
8. Isa menyembuhkan orang buta sejak lahir (Qs.3:49)
9. Isa menghidupkan orang mati dari kubur (Qs.5:110)
10. Isa berkuasa di dunia dan akhirat (Qs.3:45)
11. Isa adalah satu-satunya Imam Mahdi (Hadis Ibnu Hajah)
12. Isa mati dan bangkit ke surga (Qs.3:45)
13. Isa lahir, mati dan dihidupkan kembali (Qs.19:33)
14. Isa akan diimani oleh semua ahli kitab (Qs.4:159)
15. Isa itu hakim yang adil pada akhir zaman (Hadis Sohim Muslim)
16. Isa itu yang awal dan yang akhir (Qs.57:3)
17. Taurat dan Injil harus dituruti (Qs.5:68)
18. Taurat dan Injil dibenarkan oleh Al Qur'an (Qs.32:23)
19. Taurat dan Injil adalah induk dari Al Qur'an (Qs.43:Az Zukryf 4)
20. Orang Kristen sahabat dekat orang Islam (Qs.5:82)
21. Orang murtad akan dipertemukan dengan orang Kristen (Qs.5 :54)
Ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis yang tidak sepaham dengan Alkitab:
1. Allah mereka adalah zat yang Maha Suci (Penjelasan Alfatihah)
2. Allah Tritunggal ajaran kafir (Qs.5 Al Maidah 73, 18)
3. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan (Qs.112 Al Iklas 3)
4. Allah Roh Kudus tidak ada (Qs.2 Al Baqarah 87)
5. Isa tidak dibunuh dan tidak disalib (Qs.An Nisa 157,158)
6. Isa bukan Tuhan tetapi nabi, Manusia (Qs.5 Al Maidah 72)
7. Isa hanya untuk Bangsa Israel (Mukadimah Al Qur'an hal 19)
8. Isa anak Maryam saudara Harun, anak Imran (Qs.19 Mariam 28)
9. Nubuat tentang Nabi Isa dianggap bagi Muhammad (Aq hal 52)
10. Alkitab sudah dikotori tangan manusia (Dialok)
Ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis yang tidak berkaitan dengan iman
Kristen:
1. Allah mereka ada di Mekah sebagai kiblat (Qs.2 Al Baqaroh 144)
2. Allah juga menciptakan jin-jin (Qs.15 Al Hajir 27)
3. Bagimu agamamu, bagiku agamaku (qs 109 Al Kqhfi 6)
4. Tidak boleh menjelek-jelekkan agama lain (Aq hal 87)
5. Islam adalah agama yang diridhoi Allah (Qs.3 Ali Imran 19)
6. Muhammad adalah utusan Allah (2 Kalimat Syahadat)
7. Al Qur'an berisi wahyu Allah (Aq hal 16)
8. Muhammad harus didoakan supaya selamat (Qs.33 Ahzab 56)
9. Muhamamad tidak dapat menyelamatkan anaknya (Hadis Bukhori)
10. Muhammad tidak tahu akan selamat tidaknya (Qs.46 Al Ahqaf 9)
11. Kalau ada 73 orang, insya Allah hanya seorang yang selamat.
(Hadis/Tempo)
12. Pada upacara pemakaman Insya Allah (Tradisi Mereka)
13. Jin-jin ada yang mukmin ada yang kafir (Mukadimah Qs.Al Jin)
14. Orang laki-laki minta tolong jin yang laki (Qs.72 Al Jin 6)
Surat Al Jin oleh beberapa orang digunakan untuk memperoleh:
- Harta kekayaan
- Kekebalan jasmani
- Santet
- Daya tarik atau pelet
- Kekuatan seksual, kekuatan ekstra dengan imbalan memberi konsesi
kepada jin.
Langganan:
Postingan (Atom)